Minggu, 02 Desember 2012

INI KISAH TENTANGKU


Kisah ini berawal dari kisahku yang inginku share kepada sahabat semua, bingung mau mulai bercerita dari mana hanya mengandalkan fikiran dan ditransfer melalui jari jemari mengetikan kata demi kata kisah tragedy yang melanda hidupku dan keluargaku dan kuberanikan diri untuk menulis dan sekaligus membuka memory lama yang sudah lama hampir kututup dalam kehidupanku, ntah mengapa terbesir dibenaku untuk menuliskan kisahku ku ini dalam bentuk tulisan sembari memberi manfaat bagi yang membacanya. 

Aku dan keluargaku tidak menyangka dan tidak menduga terjadi peristiwa yang menyat hati dan sekaligus membawa luka yang sangat dalam hingga kini masih membekas dalam hidupku, pada hal seminggu sebelum kejadian itu aku sudah merencanakan akan mengadakan pesta ulang tahun kecil kecilan putraku yang ke 2, selain itu keadaan keluarga kamipun diliput rasa bahagia yang tak terkira karena kedatangan nenekku (bukan nenek kandungku) dari desa, beliau merupakan adik nenekku, karena kedekatan kami sekeuarga sama beliau kami merasa senang kehadirannya untuk menginap beberapa lama dikediaman orangtuaku, kami bercanda, bercerita, mengenang masa-masa indah ketika kita bersama nenek kandungku yang sudah lama tiada, kehadirannya setidaknya mengobati rasa kangen kita terhadap sosok nenek yang kami cintai,

“Berawal dari krisis listrik yang melanda daerahku pada tahun 2006, sebab itu didaerahku sering terjadi pemadaman listrik bergilir, keadaan ini sangat meresahkan warga dan berlarur-larut hingga tahun 2008, malam itu tepatnya kejadian tanggal 26 maret 2008 terjadi mati lampu daerah kami, ntah kenapa malam itu aku enggan pergi kerumah orangtuaku yang hanya berjarak beberapa rumah, karena semenjak menikah aku sudah tidak tinggal lagi bersama orang tuaku, tidak seperti kebiasaan aku tiap malam mati lampu aku pasti main kerumah orang tuaku, mungkin waktu itu saking kecapean bekerja, aku memutuskan untuk tinggal dirumah saja, malam itu cuaca sangat cerah sekali, disambut suasana keheningan malam, angin sepoi-sepoi, hilir mudik suara nyamuk yang berdenging ditelingaku, sembari melihat wajah malaikat kecilku tertidur kelelahan, bingung mo ngapain akunpun smsan dan telpon-telponan sama teman satu kantor yang akrab ku sapa “kak IZUR”, sehingga percakapan kami berkahir, mata ini pun tidak tahan lagi menahan ngantuk yang sangat amat dan akhirnya akupun terlelap bersama putraku.

“Satu jam tertidur akupun terbangun kaget mendengar teriakan adiku dari arah rumah orangtuaku, rasa kaget  menghujam sanubariku seakan terbangun dari mimpi burukku, akupun berlari dan tanpa kusadari aku meninggalkan  putraku tidur sendirian bersama lilin yang menerangi kamarku, aku bersama suami bergegas menuju kerumahku  pengen melihat ada apa gerangan terjadi, dengan rasa khawatir menyelimuti hatiku, sungguh kaget luar biasa yang aku rasakan, akupun menyaksikan sendiri rumah orang tuaku kebakaran, masyrakat sekitar bersama bapak dan adik lelakiku berusaha memadamkan api, waktu itu aku belum mengetahui bahwa adikku menjadi korban kebakaran, kakinya melepuh terkena api, aku bingung melihat keadaan rumah udah nggak ada orang lagi, nenekku kemana, ibuku kemana, adikku kemana yang tinggal hanya bapaku, akupun baru mengetahui bahwa adik lelaki  terjebak dalam kobaran api didalam kamar mandi, namun angin begitu kencang malalap rumahku, seakan tak percaya Allah menurunkan musibah kepada keluarga kami yang luar biasa, berhenti sejenak seakan tidak percaya, aku baru menyadari telah kutinggalkan putraku sendirian dirumah, akupun berlari ke rumah langsung kupeluk erat tubuh anakku lalu aku berteriak dan terus teriak membangunkan tetangga yang lagi tidur.

“Kebakaran-kebakaran”

Angin semakin kencang kucoba menyelamatkan beberapa barang sebisaku, hal yang pertama kuingat adalah kompor gas, aku takut gas bisa memicu ledakan yang lebih parah, kuminta tolong orang-orang yang ada untuk mengeluarkan gas dari rumahku, tanpa beralaskan sandal alias nyeker akupun berlari keluar rumah sambil menggendong erat tubuh putraku, asap tebal sudah mulai menyerubungi rumahku, aku nggak terfikir apa-apa lagi yang ada dibenaku mencari keberdaan ibu dan neneku, akupun berlari mencari tempat yang aman diantara gang-gang sempit, dari kejauhan aku mendengar tangisan anak-anak sembari berkata ”kak rumah kita kebakaran, kita mau tinggal dimana, terus menangis dan menangis, akupun tidak bisa berbuat apa-apa hanya terdiam melihat dalam sekejap rumahku dilalap sijago merah, angin semakin kencang, semakin besar api semakin merembet kerumah lainnya, dengar hilir mudik mobil kebakaran datang dan langsung menyemprotkan api kerumahku, dalam waktu setengah jam api melalap 7 rumah yang ada disekitarku  diantara 5 rumah tersebut merupakan rumahku, rumah orang tuaku dan rumah kontarakan orang tuaku, tubuh ini lemas tak berdaya air mata seakan tidak bisa keluar menatap kejadian ada apa ini gerangan ya ALLAh, tanpa membawa apapun hanya baju yang melekat dibadan dan sebuah hp disaku celana aku masih mencari-cari dan bertanya-tanya mana ibuku, mana nenekku dengan resah gundah gulana, sedangkan adik bungsuku dilarikan sama saudara-saudaraku ke Pukesmas terdekat untuk diperiksa lanjut oleh dokter.




 sisa kebakaran tanggal 27 Maret 2008

“akhirnya akupun ketemu sepupuku mengajakku kerumahnya dan baru aku tahu ibu dan nenekku sudah selamat berada dirumahnya, tak lama kemudian akupun bertemu ibuku sambil menangis dan berkata kepadanya pertanda apa ini emak “panggilan buat ibu ku”, pa maksud kejadian ini, kenapa Allah menguji kita sedahsyat ini  menimpa keluarga kita, tanpa ada bulir-bulir air mata ibuku tampak tegar melihat dan menyikapi kejadian ini, padahal aku tahu betapa berat beban yang harus ia pikul, rumah yang bertahun-tahun kita tempati bahkan rumah kontrakan yang merupakan sumber mata pencarian ikut terbakar, lalu ibuku berkata kepadaku ALLAH hanya memberi teguran kecil ke kita, ALLAH sangat sayang sama Kita sehingga kita masih ditegur atas khilaf dan dosa yang selama ini kita perbuat.

Singkat cerita kini empat tahun berlalu banyak hikmah dan pelajaran hidup yang bisa ku petik, jatuh bangun aku memulai hidup setelah kejadian itu, banyak suka dan duka, mengenal artinya kebersamaan, artinya persahabatan, aku banyak belajar memahami arti keikhlasan, kesabaran dan menjadi manusia yang tidak gampang berputus asa,  bersyukur setiap rezeki dan cobaan yang kita terima, sesungguhnya Allah memberi cobaan sesuai dengan kemampuan kita, Allah mempunyai cerita indah untuk hidup kita kedepan, tergantung gimana kita menyikapi persoalan hidup, Kuasa Allah memang maha dahsyat ‘KUN FA YAKUN”, maka terjadi terjadilah, dengan kejadian tersebut memberi motivasi hidup untukku berjuang dan terus berjuang sehingga menjadi manusia berkualitas, dan memberikan hal-hal yang terbaik buat orang sekitar kita terutama Keluarga.


0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates